Cuaca Ekstrem dan Banjir Bandang Ancam Warisan Dunia UNESCO, FARO Focus 3D Dukung Pemulihan Presisi

Banjir bandang yang melanda Sumatera Barat sejak akhir tahun 2025 tidak hanya berdampak pada permukiman dan infrastruktur, tetapi juga mengancam warisan budaya dunia. Salah satunya adalah Jalur Kereta Api Batu Bara Teluk Bayur-Sawahlunto, lintasan bersejarah sepanjang ±155 km sejak tahun 1891 yang melintasi perbukitan terjal dan Terowongan Lubang Kalam dengan teknologi rel bergerigi, jalur ini menjadi bukti rekayasa perkeretaapian kolonial bernilai sejarah tinggi sehingga ditetapkan sebagai Warisan Dunia UNESCO pada 6 Juli 2019. Namun kini mengalami penurunan kondisi struktur akibat luapan air serta pergeseran tanah imbas banjir bandang yang melanda.

Di tengah meningkatnya intensitas cuaca ekstrem, pelestarian situs bersejarah membutuhkan lebih dari sekadar perbaikan fisik, sehingga dokumentasi digital yang akurat dan presisi menjadi fondasi penting untuk memahami kondisi aktual struktur pascabencana, mendukung perencanaan revitalisasi dan restorasi, serta berfungsi sebagai arsip permanen guna menjaga rekam jejak keaslian situs agar nilai sejarah tetap terlindungi meskipun terjadi perubahan struktur di masa mendatang.