Kamis, 03 Desember 2020

Wisata Bawah Laut Pulau Weh

Oleh : Sofi Sugiharto (Fotografer Bawah Laut)

Kamis, 20 April 2017

Keindahan laut Indonesia selalu menjadi daya tarik tersendiri. Pada Januari 2014 saya dan beberapa rekan memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Pulau Weh, pulau kecil yang terletak di sebelah barat laut pulau Sumatera yang terkenal akan pesona keindahan lautnya.

Perjalanan dimulai dengan penerbangan dari Jakarta, lalu transit di Medan kemudian dilanjutkan ke Aceh.  Setiba di Aceh, dengan menggunakan mobil kami melanjutkan perjalanan ke pelabuhan Ule Lheue. Dari pelabuhan ini, kami menggunakan kapal feri MV Citra Jet 03 menuju pelabuhan Bolahan.

Selanjutnya kami menuju penginapan di The Pade Resort yang terletak di Pantai Iboih. Di tempat inilah keindahan bawah laut Indonesia dimulai, di mana Laut Andaman dan Samudera Hindia bertemu. Posisi ini membawa nutrisi bagi biota laut yang terdapat di sana mulai dari yang kecil hingga yang besar beserta terumbu karang yang sehat dan alami.

Topografi yang unik dan menakjubkan akan kita temui pada saat  menyelam di Pulau Weh. Tempat ini masih jarang tersentuh. Bebatuan yang sangat besar dihiasi ikan Anthias yang berwarna-warni dan dalam jumlah yang sangat banyak akan mudah kita temui dari kedalaman 10-15 meter, sementara di kedalaman 20-30 meter kita akan menemukan hamparan Sea Fan berwarna-warni dalam ukuran raksasa serta bebatuan yang juga berukuran raksasa.

Pulau Weh juga memiliki keunikan lain, yaitu titik selam gunung berapi bawah laut.  Di dalam lautnya, kita dapat melihat gelembung-gelembung udara keluar di antara bebatuan besar,  airnya juga terasa hangat. Di lokasi ini dapat dijumpai ikan-ikan yang berkeliaran di antara gelembung-gelembung hangat. Di permukaan dive spot juga tercium bau belerang.

Selain itu, di sini juga terdapat shipwreck Sophie Rickmers yang merupakan bangkai kapal kargo. Kapal uap buatan Jerman tahun 1920 ini karam di perairan Sabang pada saat Perang Dunia II tahun 1940.  Kapal ini sengaja ditenggelamkan oleh krunya sendiri demi mencegah penyitaan oleh pihak Belanda. Sekarang kapal ini sudah menjadi rumah terumbu karang di kedalaman 60 meter. 

Khusus di shipwreck, penyelam harus berpengalaman dan didampingi oleh dive master khusus. Kita juga tidak bisa terlalu lama menyelam di situ. Kapal ini dipasangi 3 buih dari permukaan, yakni buih bagian depan, tengah dan belakang kapal. Pada saat naik dan menjalani safety stop di 20-30 meter kita akan dikelilingi oleh kumpulan batfish.

Titik selam di pulau Weh ini ada sekitar 23 spot. Spot yang terkenal di antaranya adalah Canyon, Volcano, Peunateung, Sabang Wreck, dan Batee Gla. Melihat keindahan bawah laut Pulau Weh, kita tidak akan mengira bahwa tempat ini pernah di terjang tsunami yang sangat dahsyat tahun 2004.

Musim terbaik penyelaman di Pulau Weh untuk titik selam di daerah timur adalah pada bulan Juni-September dan untuk titik di daerah barat bagus pada bulan November – Maret.

Keindahan dasar laut menjadi semakin sempurna ketika diabadikan dengan kamera Canon EOS 70D yang dilengkapi dengan perangkat underwater case. Kemampuan EOS 70D yang memiliki jangkauan ISO tinggi ditambah kehadiran prosesor DIGIC 5+ yang andal, mampu menghasilkan foto bawah laut yang menawan. Setelah puas memotret, hasilnya bisa langsung dibagikan ke teman-teman maupun sanak famili untuk berbagi cerita mengenai kegiatan kami selama di sana.

Beberapa karyawan perusahaan dan instansi mulai melakukan aktivitasnya kembali bekerja di kantor dengan menerapkan protokol kesehatan. Penerapan 3M (menjaga jarak, memakai masker dan mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun) menjadi hal yang m...
Virus Covid-19 masih menjangkit di seluruh belahan dunia, termasuk di Indonesia. Wabah ini belum tahu kapan akan berakhir. Dalam salah satu sesi webinar Datascrip e-Expo yang diadakan baru-baru ini, dr. Teuku Adifitrian, Sp.BP-RE atau yan...
Kebebasan berkreasi menggambar kini lebih leluasa dengan hadirnya Tombow ABT Pro. Brush pen dengan tinta berbahan dasar alkohol i...