Kamis, 03 Desember 2020

Terpukau Pesona Pulau Sabu

Oleh : Nana Safriano

Senin, 12 Maret 2018

Pulau Sabu yang juga dikenal dengan sebutan Sawu atau Savu adalah salah satu pulau di Kabupaten Sabu Raijua, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Untuk mencapai Pulau Sabu, saya bersama teman saya menggunakan transportasi udara milik Maskapai Susi Air, satu-satunya penerbangan yang tersedia di sana.

Pesawat jenis Mini Cessna Grand Caravan PK-BVD berkapasitas 12 penumpang ini terbang sekitar 45 menit dari bandara El Tari Kupang menuju Pulau Sabu. Meski sebentar, namun ketegangannya terasa cukup lama, karena ini pertama kalinya saya naik pesawat yang super mungil. Suara menderu-deru pesawat sangat jelas terdengar. Sebuah petualangan yang ngeri-ngeri sedap.

Pahatan alam yang mempercantik Kellaba Maja

Kellaba Maja

Pertama kali mendengar nama Pulau Sabu adalah ketika saya melihat sebuah foto yang cantik dari seorang teman di sosial media. Sebuah foto landscape yang tidak biasa. Rasa penasaran terhadap pemandangan itulah yang kemudian membuat saya terbang ke Pulau Sabu. Tempat cantik yang memancing rasa penasaran saya itu bernama Kellaba Maja, Kecamatan Hawu Mehara. Jarak dari penginapan kami di wilayah Seba, Sabu Barat ke Kellaba Maja sekitar 25 km dengan  memakai mobil.

Sepanjang perjalanan kami disuguhi  pemandangan indah perkampungan, perbukitan dan pantai, salah satunya Pantai Wadumaddi. Jalanan yang kami  lalui masih alami alias tak semuanya beraspal, berkelok-kelok, kadang naikturun dengan tajam. Sesekali kami bertemu hewan ternak atau penduduk yang melintas membawa ember/jerigen yang kosong atau berisi air. Ya, meski indah, Sabu termasuk daerah yang kesulitan air karena jarang sekali turun hujan. Ketika sampai, bahagia rasanya. Pemandangan asli Kellaba Maja ternyata jauh lebih indah dari yang terlihat dalam foto. Pahatan alam membuat bukit-bukitnya berbentuk menakjubkan. Konon, tempat ini masih dianggap keramat dan sering dipergunakan untuk ritual adat suku setempat.

Saat tercantik melihat Kellaba Maja adalah setelah hujan karena warna-warni bukitnya terlihat lebih tegas. Warnawarni bukit berubah-ubah tergantung waktu jatuhnya matahari ke bebatuan di perbukitan tersebut. Semoga keindahan dan kelestariannya tetap terjaga dari tangantangan nakal yang ingin merusaknya.

 

Tenun, Garam & Rumput Laut

Pulau Sabu merupakan penghasil garam terbaik di Nusantara. Mutu garamnya yang bagus, membuat banyak wilayah di Indonesia memasok garam dari Sabu, seperti dari Kalimantan maupun Jawa. Selain dikelola secara modern, ada juga petani-petani garam tradisional di pantai-pantai seputar pulau. Para petani tersebut ada yang menggunakan kerang untuk mengendapkan garam, ada juga yang  menggunakan daun lontar.

Pulau Sabu juga memiliki hasil alam berupa rumput laut, seperti di Pantai Pada Maweo. Ketika kami datang, tampak para petani rumput laut sedang memanen hasil tanam. Kami berada di Pantai Maweo hingga senja saat matahari kembali ke peraduannya, tenggelam ke dalam lautan.

Oh ya, selayaknya daerah-daerah di Indonesia bagian Timur, para wanita di Pulau Sabu juga menenun kain ikat untuk pemakaian sehari-hari maupun untuk dijual. Dahulu, para penenun membuat benang dengan pewarnaan dari bahan-bahan alami seperti buah mengkudu untuk warna merah atau daun-daunan untuk warna hijau atau coklat. Namun, seiring dengan perubahan zaman saat ini tenun ikat sudah banyak yang menggunakan bahan sintetis atau warga menyebutnya benang toko. Pembuatan tenun dengan bahan alami lebih mahal karena proses pewarnaannya cukup lama, kadang hingga berbulan-bulan.

Mama Elisbeth, warga desa adat Namata di area bebatuan megalitik

Desa Adat Namata

Selain pemandangan alam yang memukau, di Pulau Sabu kita juga bisa berkunjung ke kampung atau desa adat, salah satunya adalah Desa Namata di Kecamatan Sabu Barat.

Di desa Namata yang dihuni oleh Suku Namata bermukim empat kepala keluarga. Jumlah tersebut semakin berkurang karena banyak penduduknya yang merantau dan menganut kehidupan modern di luar desa. Namun, mereka masih sering pulang kembali untuk sekedar menengok keluarga yang tinggal di sana. Di desa adat ini kita juga bisa melihat peninggalan bersejarah berupa-berupa batu-batu artifak dari era megalitik.

Keindahan alam dan budaya di Pulau Sabu ini saya abadikan dengan kamera Canon  EOS 5D Mark IV.

Pembuatan tenun ikat

 

 

 

Beberapa karyawan perusahaan dan instansi mulai melakukan aktivitasnya kembali bekerja di kantor dengan menerapkan protokol kesehatan. Penerapan 3M (menjaga jarak, memakai masker dan mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun) menjadi hal yang m...
Virus Covid-19 masih menjangkit di seluruh belahan dunia, termasuk di Indonesia. Wabah ini belum tahu kapan akan berakhir. Dalam salah satu sesi webinar Datascrip e-Expo yang diadakan baru-baru ini, dr. Teuku Adifitrian, Sp.BP-RE atau yan...
Kebebasan berkreasi menggambar kini lebih leluasa dengan hadirnya Tombow ABT Pro. Brush pen dengan tinta berbahan dasar alkohol i...