Selasa, 07 Juli 2020

Sisi Lain Ibukota: Kepulauan Seribu

Oleh : Agung Wilis Yudha Baskoro

Kamis, 24 Oktober 2019

Udara dingin masih terasa sampai ke ubun-ubun ketika kapal cepat pengangkut penumpang milik Pemerintah Daerah Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu berlabuh di dermaga Marina, Ancol. Speedboat yang berbaris di antara kapal-kapal milik kaum borjuis ibukota memang setiap hari berlabuh untuk menjemput rombongan pegawai negeri sipil yang hendak bekerja di Pulau Pramuka tepat pukul 05.00 WIB.

Perjalanan mengarungi Laut Jawa di utara Jakarta butuh waktu sekitar 45-60 menit jika ombak bersahabat. Beruntung, ombak cukup tenang, oleh sebab itu bulan Juli hingga September adalah waktu yang tepat untuk berkunjung ke Kepulauan Seribu. Selain dari Marina, Ancol akses ke Kepulauan Seribu juga bisa ditempuh menggunakan kapal-kapal yang berangkat dari Dermaga Muara Angke, Pelabuhan Kamal, atau dari Tanjung Pasir, Tangerang, Banten.

Citra Jakarta sebagai kota metropolitan yang identik dengan kepadatan penduduk, kemacetan, polusi dan gedung-gedung bertingkatnya langsung pupus setelah mendaratkan kaki di Pulau Pramuka, salah satu pulau di Kepulauan Seribu.

Pulau Pramuka menjadi pusat pemerintahan Kepulauan Seribu sejak tahun 2003. Jadi wajar saja kunjungan pariwisata sebaiknya di mulai dari sini karena fasilitas-fasilitas untuk wisatawan seperti restoran, tempat ibadah, ATM, guest house dan penyedia alat-alat snorkeling dan diving semua telah tersedia. Transportasi antarpulau bisa menggunakan perahu kayu yang terdapat di dermaga Pulau Pramuka setiap satu jam sekali dengan tarif yang cukup ramah di kantong.

Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu mempunyai jumlah penduduk tidak sepadat “Jakarta daratan”—istilah yang digunakan masyarakat Kepulauan Seribu untuk Kota Jakarta—yaitu sebanyak 23.897 jiwa yang tersebar di Pulau Pari, Pulau Untung Jawa, Pulau Lancang, Pulau Tidung Besar, Pulau Tidung Kecil, Pulau Panggang, Pulau Harapan, Pulau Kelapa, Pulau Kelapa Dua, Pulau Sebira dan Pulau Pramuka. Selain pulau-pulau tersebut ada beberapa pulau yang khusus dijadikan destinasi pariwisata yaitu Pulau Onrust, Pulau Kelor, Pulau Puteri, Pulau Sepa, Pulau Matahari, Pulau Bidadai dan Pulau Rambut.

Setiap pulau-pulau pariwisata di Kepulauan Seribu tentu akan memberikan pengalaman pariwisata yang berbeda-beda. Misalnya di Pulau Pramuka, wisatawan dapat mengunjungi kawasan konservasi penyu dan fasilitas pengolahan limbah plastik sebagai dukungan terhadap gerakan green tourism.

Pulau Pari dan Pulau Tidung cocok untuk wisatawan yang ingin menikmati wisata air seperti bermain banana boat, bersantai di dekat Jembatan Cinta, berjemur bersama pasangan dan berkeliling hutan bakau menggunakan perahu kayu.

Kemudian, bagi wisatawan pecinta wildlife tourism ada Pulau Rambut atau lebih dikenal sebagai kerajaan burung adalah pulau yang berada di bawah pengawasan Balai Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu. Pulau seluas 90 hektare ini dihuni oleh 20.000 ekor burung bahkan selama Maret hingga September bisa mencapai 50.000 ekor. Burung-burung tersebut berasal dari Asia dan Australia. Burung Cagak Merah (Ardea purpurea), Cagak Abu (Ardea cinerea), Kuntul Besar (Egretta alba), Kuntul Kecil (Egretta garzetta) dan Bangau Bluwok (Mycteria cinerea) bisa dengan mudah ditemukan di sini.

Pulau Rambut adalah surganya para peneliti dan bird watching-enthusiast. Pihak taman nasional menyediakan sebuah menara setinggi 50 meter di atas permukaan laut yang bisa dimanfaatkan untuk melihat keindahaan Pulau Rambut sembari memantau burung-burung yang terbang di balik rindangnya pohon-pohon asri dan alami.

kamera Canon EOS 1D X Mark II dengan lensa EF400mm f/2.8L IS II USM ditambah dengan extender EF 1.4X III berhasil menjadi andalan untuk mengabadikan The King of Bird, sang predator Elang Laut Perut Putih (Haliaeetus leucogaster) yang sedang bertengger dengan angkuhnya. Jika ingin berkunjung ke Pulau Rambut lebih baik melakukan persiapan dari jauh hari karena untuk mengunjungi pulau ini memerlukan izin khusus dari BKSDA di Jalan Salemba Raya No. 9, Jakarta Pusat.

Kepulauan Seribu cocok bagi wisatawan yang ingin sejenak melepas penat dan lelah sekaligus menikmati udara segar bebas polusi bersama senja bernuansa pantai yang sangat kontras dari kehidupan di Kota Jakarta. Memang keindahan pemandangan bawah laut di Kepulauan Seribu tidak bisa dibandingkan dengan Wakatobi atau Raja Ampat namun bagi wisatawan yang tidak punya banyak waktu luang namun ingin mendapatkan pengalaman pariwisata yang beragam di satu tempat dengan bujet yang minim maka jangan ragu untuk berlibur ke Kepulauan Seribu.

 

 

PT Datascrip mengadakan Datascrip Solution Days E-Conference 2020 yang diikuti lebih dari  2000 orang peserta dari berbagai daerah di Indonesia, dari Aceh hingga kota/kabupaten di wilayah Timur Indonesia. Seminar online atau webi...
PT Datascrip bantu warga terdampak Covid-19 dengan memberikan donasi Rp 100 juta melalui platform penggalangan dana tepercaya BenihBaik.com. Donasi  tersebut diberikan Datascrip karena memahami dampak ekonomi yang dirasakan oleh masyarak...
Selama masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) banyak hal positif yang bisa dilakukan meski di rumah saja. Selain bekerja dan belajar dari rumah, Anda juga bisa membuat karya kreatif untuk menyalurkan hobi, bahkan juga bisa menjadi penghasila...