Kamis, 03 Desember 2020

Perjalanan 1.006 km Menyusuri Via de La Plata

Oleh : Don Hasman

Selasa, 18 April 2017

Perjalanan menapaki Camino de Santiago (jalan menuju Santiago) di wilayah Spanyol merupakan salah satu rute peziarahan yang mendunia. Di kota Santiago berdiri Cathedral of Santiago de Compostela yang di dalamnya terdapat makam yang dipercaya sebagai tempat peristirahatan terakhir Santo Yakobus.

Camino de Santiago dapat ditempuh dari beberapa rute, salah satunya dari  kota Sevile di bagian selatan Spanyol yang dikenal dengan nama Via de La Plata. Istimewanya fotografer dan penjelajah alam Don Hasman, yang tahun ini berusia 76 tahun menyusuri jalur tersebut dengan berjalan kaki sejauh 1.006 km. Total waktu yang ditempuhnya adalah 36 hari, dari 5 September – 11 Oktober 2016.

“Camino de Santiago ini bisa juga ditempuh dari jalur utara, yaitu dari Perancis bagian selatan. Saya sudah pernah melewati jalur tersebut tahun 2007. Kali ini saya mencoba mencapai Katedral Santiago dengan menyusuri dari selatan melalui Via de La Plata,” ujar pria yang akrab disapa Om Don ini. Ia tengah mempersiapkan buku mengenai perjalanan Camino de Santiago yang ditempuh dari jalur utara dan selatan.

Via de La Plata yang dalam bahasa lokal berarti Rute Perak ini, dahulu merupakan jalur yang ditempuh orang-orang pada masa Kekaisaran Romawi menuju ke kawasan pertambangan di  utara Spanyol. Jaraknya lebih jauh dibandingkan Jalur Perancis yang panjangnya sekitar 800 km.

Jarak tempuh yang panjang menuntut ketahanan fisik yang kuat. Om Don, yang berpengalaman menjelajah pegunungan di berbagai belahan dunia pun mengakui kesiapan fisik dan peralatan merupakan faktor penting untuk menyusuri Via de La Plata.

“Hari pertama, panasnya mencapai 50 derajat, setengah mendidih. Saya sudah membawa dua liter air, ternyata kurang sehingga saya dehidrasi. Melangkahkan kaki sangat berat. Apalagi angin bertiup sangat kencang dan panas. Untungnya teman seperjalanan saya membantu mencarikan air,” kenang Don.

Kendati udara panas, bulan September-November (musim gugur) merupakan periode yang bagus untuk menempuh Via de La Plata, khususnya bagi penggemar fotografi. Cerahnya pemandangan sepanjang perjalanan menarik untuk diabadikan dalam foto, seperti ladang gandum dan perkebunan sayur dan buah-buahan. Selain itu, pada bulan September-November, peziarah yang menempuh rute ini cenderung lebih sedikit dibandingkan pada musim semi (April-Juni)

“April-Juni juga bagus, kita bisa terhindar dari panas terik karena ada hujan. Hanya saja, akomodasi agak sulit karena banyak orang yang melakukan perjalanan di bulan tersebut.  Jalanan ramai, penginapan agak sulit, kecuali kalau mau di hotel,” ujar Don.

Akomodasi yang dimaksud Don adalah rumah-rumah penduduk dan hostel, yang biayanya lebih hemat dibandingkan menginap di hotel. Sebagian bahkan ada ada yang gratis, pengunjung cukup memberikan sumbangan seadanya. Sebagai catatan, akomodasi ini hanya diperbolehkan untuk para peziarah yang berjalan kaki, menunggang kuda/keledai, atau bersepeda. Biasanya peziarah memulai perjalanan pagi hari dan beristirahat/bermalam di kota persinggahan pada sore harinya sebelum meneruskan perjalanan lagi keesokannya.

Pada perjalanannya ini, Don berkesempatan memasuki Katedral Santiago melewati Pintu Suci atau Porta Santa. Salah satu gerbang masuk Katedral Santiago ini hanya dibuka selama Tahun Suci, yaitu tahun ketika Hari Santo Yakobus yang diperingati setiap tanggal 25 Juli, jatuh pada hari Minggu.

Memasuki Katedral, di bawah altar utamanya terdapat Makam Santo Yakobus, yang petinya terbuat dari perak. Selain itu, juga terdapat Museum Katedral Santiago untuk pengunjung yang ingin mengetahui lebih banyak mengenai sejarah dan benda-benda seni Katedral. Pada akhir perjalanan Camino de Santiago, peziarah akan mendapat sertifikat berbahasa Latin dari Katedral.

Untuk mengabadikan perjalanan ziarah Via de La Plata, Don menggunakan kamera Canon EOS M3 dan PowerShot G7 X.  EOS M3 adalah kamera bersensor CMOS APS-C dengan resolusi 24,2 megapiksel dan memiliki jangkauan ISO hingga 12.800. Sementara G7 X memiliki bodi ringkas yang mudah dibawa dengan kemampuan foto makro hingga jarak 5 cm serta jangkauan zoom setara lensa 24-100mm. 

Beberapa karyawan perusahaan dan instansi mulai melakukan aktivitasnya kembali bekerja di kantor dengan menerapkan protokol kesehatan. Penerapan 3M (menjaga jarak, memakai masker dan mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun) menjadi hal yang m...
Virus Covid-19 masih menjangkit di seluruh belahan dunia, termasuk di Indonesia. Wabah ini belum tahu kapan akan berakhir. Dalam salah satu sesi webinar Datascrip e-Expo yang diadakan baru-baru ini, dr. Teuku Adifitrian, Sp.BP-RE atau yan...
Kebebasan berkreasi menggambar kini lebih leluasa dengan hadirnya Tombow ABT Pro. Brush pen dengan tinta berbahan dasar alkohol i...