Kamis, 03 Desember 2020

Maudu Lompoa, Perpaduan Wisata Budaya dan Religi dari Takalar

Oleh : Elyana Dasuki

Selasa, 08 Agustus 2017

Indonesia kaya dengan keindahan alam dan tradisi yang memiliki daya tarik bagi wisatawan. Salah satu tradisi unik yang kini menjadi magnet wisata budaya dan religi, khususnya di kawasan Sulawesi Selatan adalah Maudu Lompoa (Maulid Besar/Akbar) yang dilakukan oleh warga Desa Cikoang, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan untuk merayakan Maulid Nabi Muhammad.

Tradisi Maudu Lompoa yang sudah berlangsung sejak abad ke-17 ini berawal dari kedatangan Sayyid Djalaluddin bin Muhammad Wahid Al Aidid. Beliau adalah seorang ulama besar asal Aceh yang datang untuk menyebarkan agama Islam ke kerajaan kerajaan Bugis – Makassar. Keturunan Sayyid melestarikan perayaan ini setiap tahunnya. Bahkan kini, Maudu Lompoa telah menjadi agenda pariwisata daerah Sulawesi Selatan. Selain bernuansa religi dan sebagai bentuk kecintaan terhadap Nabi Muhammad SAW, Maudu Lompoa juga menjadi ajang pelepas rindu pada keluarga dan kampung halaman oleh masyarakat Cikoang yang tinggal di perantauan.

1.	Warga memasang telur-telur hias di perahu yang akan digunakan untuk perayaan Maudu Lompoa.

Warga berkerumun menyaksikan perahu yang diarak menuju Sungai Cikoang.

Ciri khas dari perayaan ini adalah perahu (julung-julung) yang dicat berwarna-warni dan dihias dengan berbagai pernak-pernik seperti telur, kain sarung, keranjang, baju, selendang, bahkan seprai. Perahu-perahu tersebut diarak dari desa menuju tepi sungai Cikoang dan kemudian dipamerkan di sungai. Pada setiap perahu dibuat sebuah panggung kecil yang dipasangi tenda sebagai tempat pembacaan “zikkiri” yang berisi syair-syair pujian kepada Rasullulah SAW.

Di dalam perahu juga tersaji Songkolo, yaitu makanan nasi ketan khas Sulawesi Selatan dan gunungan telur yang dihias warna-warni.  Telur-telur ini direbus terlebih dahulu lalu ditusuk pada ujung bambu yang sudah dipecah-belah kecil dan runcing dan ditancapkan di atas bakul. Sajian makanan ini melambangkan bahtera yang membawa berkah bagi masyarakat Cikoang.

Suasana perayaan Maudu Lompoa sungguh meriah seperti berada di sebuah karnaval. Keriuhan masyarakat memuncak ketika julung-julung dibopong dengan penuh semangat oleh warga menuju sungai Cikoang. Masyarakat pun ramai memadati jalan masuk menuju tempat perahu dihias dan dijejerkan. Acara semakin meriah dengan berbagai lomba yang diikuti masyarakat di sungai Cikoang serta atraksi silat kampung khas Cikoang. Keunikan tradisi ini menjadikan Maudu Lompoa salah satu agenda wisata yang menarik di kawasan Sulawesi Selatan. 

Momen-momen penuh warna pada perayaan Maudu Lompoa ini saya abadikan menggunakan kamera Canon EOS 7D Mark II dan EOS 5D Mark II. Saya pun tak melewatkan untuk berkreasi dengan toytravel photography bersama Rilakkuma dalam perayaan ini.

 

*Elyana Dasuki: Hobi fotografinya dimulai saat bergabung dengan photography club Garuda Indonesia tahun 2009. Beberapa kali menjuarai lomba foto serta mengikuti pameran foto di dalam dan luar negeri.

Beberapa karyawan perusahaan dan instansi mulai melakukan aktivitasnya kembali bekerja di kantor dengan menerapkan protokol kesehatan. Penerapan 3M (menjaga jarak, memakai masker dan mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun) menjadi hal yang m...
Virus Covid-19 masih menjangkit di seluruh belahan dunia, termasuk di Indonesia. Wabah ini belum tahu kapan akan berakhir. Dalam salah satu sesi webinar Datascrip e-Expo yang diadakan baru-baru ini, dr. Teuku Adifitrian, Sp.BP-RE atau yan...
Kebebasan berkreasi menggambar kini lebih leluasa dengan hadirnya Tombow ABT Pro. Brush pen dengan tinta berbahan dasar alkohol i...