Jum'at, 04 Desember 2020

Ambon Manise Surga Wisata Laut dan Sejarah

Oleh : Rendha Rais

Selasa, 18 Juni 2019

Bangga rasanya menjadi bagian dari Indonesia yang memiliki kekayaan alam yang luar biasa indahnya. Rutinitas pekerjaan seringkali membawa saya untuk menghampiri berbagai tempat menarik di tanah air ini. Sayang, ketika berkunjung ke luar kota, saya tak sempat berlama-lama menikmatinya karena padatnya jadwal pekerjaan.

Ketika ada waktu senggang, saya coba untuk melepaskan penat dan pergi menjauh dari keriuhan ibu kota. Salah satu destinasi yang membuat jatuh cinta karena eksotika pantainya adalah Maluku. Wilayah Indonesia bagian timur ini memang surganya wisata laut. Selain itu, peninggalan bangunan bekas wilayah jajahan Portugis dan Belanda ini juga dikenal sangat menarik.

Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan untuk mengunjungi Ambon. Di pulau ini, selain banyak wisata alam yang menarik, khususnya pantai, seperti Pantai Liang dan Pantai Natsepa, kita bisa juga mengunjungi tempat dan bangunan bersejarah seperti Benteng Amsterdam, Taman Pattimura, hingga Monumen Martha Christina Tiahahu.

Saya ingin berbagi pengalaman menjelajah Pantai Liang, snorkeling di Pantai Lubang Buaya Morrela, dan serunya mengunjungi bangunan bersejarah di Desa Hila. Kali ini, saya tidak menggunakan kamera DSLR yang biasa dipakai saat bekerja, tapi menggunakan kamera saku Canon PowerShot G7X Mark II yang ringkas untuk di bawa jalan-jalan. Terlebih lagi, saya bisa menggunakan kamera ini untuk memotret keindahan bawah laut dengan tambahan waterproof case.

Pantai Liang nan Eksotis

Pantai pasir putih ini menjadi destinasi favorit bagi pelancong yang berkunjung ke pulau Ambon. Pantai ini sebetulnya bernama Pantai Hunimua, namun karena letaknya di Desa Liang, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku, orang lebih mengenal dengan Pantai Liang.

Pantai Liang berjarak sekitar 40 km dari Kota Ambon. Cukup jauh memang, tapi jika sudah tiba maka rasa letih di perjalanan akan hilang ketika melihat pesona keindahan hamparan pasir putih berpadu dengan air laut yang jernih berwarna kebiru-biruan. Tak salah kalau pantai ini pernah tercatat meraih predikat pantai terindah di Indonesia oleh UNDP-PBB pada tahun 1990.

Snorkeling di Pantai Lubang Buaya

Pantai Lubang Buaya ini bukan berarti tempat atau sarang binatang predator berkaki empat. Nama lainnya adalah Pantai Namanalu, namun ada mitos kalau dulu ada buaya putih yang tinggal di lubang atau goa di sekitar batu karang. Pantai Lubang Buaya terletak di Desa Morela, Kabupaten Maluku Tengah. Desa ini punya pertunjukan seni budaya yang unik yaitu tradisi pukul sapu yang rutin diadakan pada saat tujuh hari setelah perayaan Idul Fitri.

Berbeda dengan pantai pada umumnya dengan hamparan pasir yang landai, Pantai Lubang Buaya punya kontur yang dominan dengan batu karang. Meski tidak setenar Pantai Liang atau Pantai Natsepa, tapi pesona bawah laut Pantai Lubang Buaya patut diacungi jempol. Airnya yang jernih serta indahnya terumbu karang dan beraneka ragam ikan yang sangat cantik membuat saya takjub saat snorkeling di sini.

Wisata Sejarah di Desa Hila

Sebagai tempat yang kaya akan rempah, pulau Ambon pernah menjadi wilayah jajahan Portugis dan Belanda. Beberapa peninggalan bersejarah bisa kita temui di Desa Hila, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah. Desa ini terletak di sebelah utara Pulau Ambon atau 35 km dari Kota Ambon. Tidak terlalu jauh, namun karena jalan yang ditempuh berkelok-kelok bisa memakan waktu sekitar 1,5 jam dari Kota Ambon. Selama perjalanan kita akan disuguhi pemandangan alam dan pohon cengkih, yang tidak pernah dijumpai di kota besar seperti Jakarta.

Ketika sampai di Desa Hila, objek pertama yang wajib dikunjungi yaitu Benteng Amsterdam. Letaknya yang berada di tepi pantai memberikan nuansa tersendiri. Sembari menikmati hembusan angin laut, kita bisa melihat Pulau Seram yang terletak di seberang. Awalnya, benteng ini dibangun oleh bangsa Portugis sebagai tempat penyimpanan rempah-rempah pala dan cengkih. Setelah diambil oleh Belanda, bangunan ini dipugar dan beralih menjadi benteng VOC, yang diberi nama  Benteng Amsterdam. Terdiri dari tiga lantai, lantai dasar difungsikan sebagai tempat istirahat para serdadu, lantai dua untuk pertemuan para petinggi kolonial Belanda, sedangkan lantai ketiga digunakan untuk memantau.

Tidak jauh dari Benteng Amsterdam, kita bisa berjalan kaki menuju Gereja Tua Immanuel. Gereja ini dibangun oleh Belanda  pada tahun 1659 dan telah mengalami beberapa kali pemugaran. Struktur bangunan terdiri dari kayu, bagitu juga dengan desain yang ada di dalamnya sangat sederhana, yang terdiri dari sebuah mimbar yang menghadap ke deretan kursi kayu yang berjajar ke belakang. Gereja ini sempat mengalami kerusakan akibat konflik antaragama pada tahun 1999. Setelah kembali damai, gereja ini pun kembali dibangun dengan arsitektur yang sama.

Sebetulnya warga Ambon sangat menjunjung tinggi kerukunan dan toleransi antar umat beragama. Terbukti, bangunan Masjid Tua Wapauwe yang letaknya tidak jauh dari Gereja Tua Immanuel, telah ada sejak enam abad yang lalu. Masyarakat di sana hidup rukun berdampingan.

Seru rasanya mengunjungi tempat-tempat wisata di pulau yang penduduknya berparas cantik dan rupawan sehingga mendapat julukan Ambon Manise.

 

Beberapa karyawan perusahaan dan instansi mulai melakukan aktivitasnya kembali bekerja di kantor dengan menerapkan protokol kesehatan. Penerapan 3M (menjaga jarak, memakai masker dan mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun) menjadi hal yang m...
Tampak pada gambar (kiri-kanan): Romo Royke Djakarya – Pembina Yayasan Bina Teknik Strada berfoto bersama Joe Kamdani – Mentor pt. Datascrip dan Lucy Kamdani us...
Menurut penelitian World Health Organization (WHO), 80% penyebaran virus Covid-19 menyebar melalui sentuhan fisik. Oleh karena itu, WHO menyarankan kepada setiap orang untuk selalu rajin cuci tangan menggunakan sabun, hand sanitizer ...