Dari Sunda Kelapa hingga Monas: Menelusuri Jejak Sejarah Jakarta

Jakarta menyimpan banyak kisah di balik gedung-gedung pencakar langit dan aktivitas warganya yang tak pernah berhenti. Di balik identitasnya sebagai pusat bisnis dan pemerintahan, Jakarta tetap mempertahankan warisan sejarah yang kuat. Bangunan berarsitektur klasik, kawasan perdagangan legendaris, hingga landmark bersejarah masih berdiri. Menghadirkan cerita tentang perjalanan ibu kota selama hampir lima abad.

Di ulang tahunnya yang ke-499–hampir lima abad, layak dirayakan dengan cara yang berbeda: menelusuri sisi historisnya. Berikut enam destinasi bersejarah di Jakarta yang layak dijelajahi.

Monumen Nasional

Sulit membicarakan Jakarta tanpa menyebut Monumen Nasional atau Monas. Berdiri megah di pusat kota, Monas adalah landmark paling dikenal di Indonesia sekaligus simbol perjuangan bangsa. Selain menikmati taman terbuka di sekitarnya, pengunjung bisa menjelajahi area museum di bagian bawah untuk melihat diorama sejarah Indonesia serta melihat langsung naskah asli Proklamasi—lengkap dengan audio pembacaannya. Secara simbolis, setiap dimensi Monas mewakili angka kemerdekaan; lidah api setinggi 17 meter, cawan selebar 45 meter, dan ruang museum setebal 8 meter—masing-masing untuk tanggal, tahun, dan bulan proklamasi. Dari puncaknya, panorama Jakarta terbentang luas menghadirkan sudut pandang berbeda tentang kota yang terus berkembang namun tetap berakar pada perjalanan panjang masa lalu.

Sumber: Foto oleh Faqihah Muharroroh Itsnain/Kompas.com

Pasar Baru

Sejak abad ke-19, Pasar Baru dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan tertua di Jakarta. Hingga kini kawasan ini tetap ramai dan mempertahankan karakter khasnya—perpaduan arsitektur Tionghoa, Eropa, dan Nusantara yang membawa pengunjung seolah kembali ke masa lampau.

Banyak bisnis besar yang lahir dari sini; Apotek Kimia Farma, Optik Seis, hingga Matahari Department Store yang memulai perjalanannya pada 1958. Berjalan kaki di Pasar Baru menghadirkan pengalaman unik: ritme kota lama yang masih berdenyut di tengah perubahan zaman.

Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral

Dua bangunan ikonik ini adalah simbol toleransi yang tumbuh bersama Jakarta. Masjid Istiqlal dengan arsitektur megahnya berhadapan langsung dengan Gereja Katedral yang menampilkan gaya neo-gotik klasik.

Keduanya bukan hanya sekedar tempat ibadah, kehadiran berdampingan mereka adalah pernyataan tentang bagaimana Jakarta memilih untuk hidup bersama. Mengunjungi kawasan ini memberikan pengalaman visual sekaligus momen refleksi tentang bagaimana Jakarta tumbuh sebagai kota yang merangkul keberagaman.

Sumber: Foto oleh archipelagoid.com

Pelabuhan Sunda Kelapa

Jauh sebelum menjadi kota metropolitan, Jakarta adalah sebuah pelabuhan—pusat perdagangan dan pertemuan antarbudaya di Nusantara. Di pesisir utaranya, Pelabuhan Sunda Kelapa adalah saksi tertua perjalanan itu: membentuk wajah Batavia melalui perdagangan, kekuatan maritim, dan persilangan budaya selama berabad-abad.

Hingga kini, Sunda Kelapa masih mempertahankan pesonanya. Deretan kapal pinisi kayu yang bersandar menghadirkan suasana khas yang sulit ditemukan di tengah hiruk-pikuk ibu kota. Latar kapal tradisional dan nuansa pelabuhan tua juga menjadikannya lokasi foto populer—termasuk sesi pre-wedding.

Sumber: Foto oleh Cynthia Djuardi/Shutterstock

Museum Fatahillah (Museum Sejarah Jakarta)

Dari Sunda Kelapa, perjalanan bisa dilanjutkan ke Kota Tua—rumah bagi Museum Bahari, Museum Wayang, dan Museum Fatahillah. Museum Fatahillah adalah yang paling ikonik: bangunan kolonial terawat yang menyimpan sejarah Jakarta dari masa Batavia hingga kini.

Area plaza di depannya juga selalu ramai dengan pertunjukan jalanan dan komunitas kreatif yang membuat kawasan ini selalu bernyawa. Perpaduan antara nilai sejarah dan aktivitas publik menjadikan tempat ini menarik untuk dikunjungi kapan saja.

Kota Tua bukan sekadar tujuan wisata—ini adalah ruang yang menghubungkan sejarah maritim Jakarta dengan kehidupan urban hari ini.

Sumber: Foto oleh Jongki Handianto/Gatra.com

Rumah Si Pitung

Di tengah hiruk-pikuk kota, Rumah Si Pitung menghadirkan cerita tentang budaya Betawi dan tokoh legendaris yang lekat dengan sejarah masyarakat Jakarta. Berlokasi di kawasan Marunda, Jakarta Utara, bangunan rumah panggung ini menampilkan arsitektur khas Betawi yang masih terjaga dan menjadi pengingat akan kehidupan masyarakat Betawi pada masa lampau. Si Pitung–tokoh cerita rakyat yang identik dengan keberanian membela rakyat kecil, telah lama menjadi bagian dari identitas budaya Jakarta. Melalui bangunan dan informasi yang tersedia di kawasan ini, pengunjung dapat menelusuri kisah yang telah menjadi akar identitas budaya Jakarta.

Setelah menjelajahi budaya Betawi, perjalanan dilanjutkan dengan kuliner khas setempat seperti kerak telor, soto Betawi, hingga hidangan laut segar di sekitar Marunda.  Satu kawasan, tiga pengalaman: sejarah, budaya, dan kuliner.

Merayakan ulang tahun Jakarta bisa lebih dari sekadar festival. Menyempatkan waktu ke destinasi bersejarah adalah cara menikmati ibu kota dari sudut yang berbeda. Lebih dekat dengan cerita, budaya, dan warisan yang membentuk Jakarta selama hampir lima abad.

Penulis: Juliet Sabrina Balqis
Editor: Irvan Firdaus