Beberapa tahun terakhir, investasi jadi topik yang semakin sering muncul di obrolan sehari-hari. Dari tongkrongan, grup WhatsApp keluarga, sampai media sosial. Semuanya membahas saham, kripto, sampai keuntungan jutaan rupiah dalam waktu singkat.
Menurut data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) hingga November 2025, terdapat sebanyak 19,65 juta investor kripto di Indonesia. Di sisi lain, Bursa Efek Indonesia (BEI) juga mencatat 20,36 juta masyarakat Indonesia telah terdaftar sebagai investor pasar modal. Kedua data tersebut menunjukkan minat masyarakat terhadap instrumen keuangan sedang meningkat pesat.
Namun, di balik pertumbuhan ini muncul fenomena yang disebut Fear of Missing Money yaitu rasa takut kehilangan peluang menghasilkan uang ketika melihat orang lain tampak sukses berinvestasi.

Kripto, Saham, dan Efek “Ikut-ikutan”
Lonjakan harga Bitcoin beberapa waktu lalu sempat membuat banyak orang tergoda masuk ke pasar kripto. Cerita tentang keuntungan ratusan persen beredar luas di media sosial. Hal serupa juga terjadi di pasar saham, terutama ketika saham-saham tertentu mendadak viral karena disebut-sebut akan “to the moon” atau harga saham akan naik signifikan.
Masalahnya, tidak semua orang masuk karena memahami produknya. Banyak yang tertarik karena melihat orang lain terlihat untung lebih dulu. Rasa takut ketinggalan momen inilah yang sering mendorong keputusan berinvestasi secara impulsif.
Belum lama ini, publik juga dihebohkan dengan kasus dugaan manipulasi saham yang melibatkan influencer finansial. OJK bahkan pernah menjatuhkan sanksi dan denda kepada pihak yang terbukti melakukan praktik “goreng saham” melalui media sosial. Kasus ini membuka mata bahwa tidak semua informasi investasi yang viral itu bersifat netral.

Finfluencer: Edukasi atau Sekadar Konten?
Fenomena finfluencer (financial influencer) juga ikut membentuk tren investasi hari ini. Banyak kreator konten membahas saham dan kripto dengan gaya ringan dan mudah dipahami. Di satu sisi, ini membantu meningkatkan awareness masyarakat tentang pentingnya investasi.
Namun, terdapat kasus yang menjadi perhatian publik seperti dugaan penipuan kripto yang menyeret nama influencer Indonesia dan ramai diberitakan. Beberapa investor mengaku mengalami kerugian besar setelah mengikuti promosi proyek kripto yang ternyata bermasalah.
Belum lagi laporan penipuan investasi online yang jumlahnya terus meningkat. Indonesia Anti Scam Center (IASC) mencatat hingga pertengahan Januari 2026 terdapat 432.637 laporan penipuan digital dengan nilai kerugian mencapai 9,1 triliun rupiah dalam beberapa tahun terakhir. Modusnya pun makin beragam mulai dari aplikasi palsu, robot trading fiktif, hingga skema ponzi berbasis kripto.

Antara Kesadaran Finansial dan Tekanan Sosial
Fenomena ini membuat masyarakat Indonesia semakin sadar pentingnya mengelola uang dan mencari peluang tambahan. Investasi menjadi hal lumrah bagi banyak orang. Namun, terdapat tekanan sosial baru yang terbentuk di era digital. Ketika timeline penuh dengan cerita cuan, seseorang bisa merasa tertinggal jika belum ikut masuk. Bahkan, rasa takut kehilangan peluang sering kali lebih besar daripada rasa takut kehilangan uang itu sendiri. Inilah yang disebut sebagai Fear of Missing Money. Bukan sekadar ingin untung, tapi takut tertinggal dari orang lain.
Fenomena kripto, saham viral, dan finfluencer pada dasarnya adalah bagian dari perkembangan zaman. Akses semakin mudah, informasi semakin cepat, dan peluang semakin terbuka. Namun, tren ini juga datang bersama risiko-risiko yang muncul. Seperti manipulasi pasar, proyek abal-abal, hingga penipuan berkedok investasi. Sering kali peningkatan minat investasi juga diikuti oleh meningkatnya laporan kasus ilegal.

Pada akhirnya, bukan lagi sekadar untung atau rugi, tetapi apakah keputusan yang diambil benar-benar karena paham, atau hanya karena takut ketinggalan?
Fear of Missing Money menjadi refleksi bahwa di balik keinginan untuk bertumbuh secara finansial, terdapat dorongan sosial yang sangat kuat. Di era digital seperti sekarang, membedakan antara peluang nyata dan sekadar tren viral menjadi tantangan bersama. Pilihlah keputusan finansial keuangan secara bijak dan cermat.
Penulis: Juliet Sabrina