Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI) bagaikan pedang bermata dua. Di satu sisi, AI membuat pekerjaan menjadi lebih efisien. Di sisi lain, AI mulai menggantikan tenaga kerja manusia. Jadi, AI sebenarnya kawan atau lawan bagi para pekerja?
Di berbagai sektor industri, AI secara perlahan telah menggantikan pekerjaan manusia yang sifatnya repetitif. Contoh gamblangnya tampak pada tindakan Amazon.com. Perusahaan e-commerce dan teknologi dan multinasional asal Amerika Serikat itu mengganti 100.000 pekerja manusianya dengan 750.000 robot yang digerakkan oleh AI, untuk mengerjakan pekerjaan yang sifatnya berulang.

Menurut Bidang Kajian Microeconomics Dashboard Universitas Gajah Mada (UGM), pekerjaan yang mudah digantikan oleh AI antara lain adalah entri data, pekerja administratif, customer service, pekerjaan di lini manufaktur dan perakitan, kasir ritel, dan penerjemah. Pekerjaan-pekerjaan tersebut rentan tergantikan karena AI unggul dalam pemrosesan data dalam jumlah besar.
Meski begitu, AI tidak sepenuhnya mengancam pekerjaan manusia. Sebab, ada pekerjaan yang tidak bisa digantikan oleh AI. Selain itu, keberadaan AI juga menciptakan pekerjaan baru. Masih menurut Bidang Kajian Microeconomics Dashboard UGM, sebagian besar perusahaan membutuhkan pekerja yang punya kompetensi untuk mengembangkan dan memelihara model AI.

Perubahan lanskap pekerjaan akibat AI ini sudah diprediksi oleh World Economic Forum (WEF) dalam laporannya tahun 2020. WEF memperkirakan bahwa AI dan otomatisasi akan menggantikan sekitar 85 juta pekerjaan manusia hingga tahun 2025. Akan tetapi, WEF juga memprediksi bahwa AI akan menciptakan 97 juta pekerjaan baru yang lebih sesuai dengan era digital seperti analis data, pengembang perangkat lunak dan aplikasi, serta spesialis transformasi digital.
Prediksi WEF tersebut linear dengan estimasi lembaga riset multinasional McKinsey tentang masa depan dunia kerja Indonesia. McKinsey (2019) memperkirakan, 23 juta pekerjaan di Indonesia akan digantikan oleh AI dan otomatisasi dalam satu dekade ke depan atau hingga tahun 2030. Kendati begitu, dalam rentang waktu yang sama akan tercipta hingga 46 juta pekerjaan baru, dengan 10 juta di antaranya adalah pekerjaan yang baru muncul karena perkembangan teknologi.

Prediksi WEF dan McKinsey itu menunjukkan bahwa para pekerja harus beradaptasi agar tetap relevan di era AI dan otomatisasi. AI harus dipandang sebagai alat untuk membantu pekerjaan manusia. Karim Lakhani, profesor di Harvard Business School dengan spesialisasi dalam bidang teknologi di tempat kerja, mengingatkan para pekerja dan pemimpin perusahaan untuk tidak alergi dengan AI, karena perkembangan dan adaptasi AI sebagai alat bantu pekerjaan adalah sesuatu yang tidak terhindarkan.
“Pesan saya untuk manajer, pemimpin, dan pekerja: AI tidak akan menggantikan manusia, tetapi manusia yang menggunakan AI akan menggantikan manusia yang tidak menggunakan AI,” ujar Karim Lakhani dalam sebuah wawancara pada 2023.