Banda Neira: Pulau Pala yang Indah dan Kaya Sejarah

“Jangan mati sebelum ke Banda Neira,” kata tokoh nasional pejuang kemerdekaan Indonesia, Sutan Sjahrir.

Kalimat hiperbola itu diutarakan Sjahrir untuk mengekspresikan ketakjubannya atas keindahan Pulau Banda Neira. Pulau kecil terisolir di kawasan timur Indonesia itu memang punya lanskap yang menawan, laut yang biru, dan panorama bawah laut yang menakjubkan. Bahkan, Banda Neira sampai diberi julukan ‘Sepotong Surga dari Timur’.

Tak hanya indah, Banda Neira juga kaya sejarah. Di sana tersimpan sejarah Banda Neira sebagai pusat perdagangan dunia untuk komoditas pala (Myristica fragrans), buah yang hanya tumbuh di Kepulauan Banda hingga abad ke-19 dan harganya sempat setara emas. Ada juga jejak sejarah Belanda memonopoli perdagangan buah pala, dan sejarah pengasingan tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia.

Keindahan alam dan kekayaan sejarah Banda Neira itu sangat dipengaruhi oleh geografisnya. Banda Neira adalah salah satu dari 10 pulau vulkanik di Kepulauan Banda, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku.

Untuk berpelesir ke sana, wisatawan dari Jakarta, misalnya, bisa menggunakan pesawat menuju Kota Ambon dengan durasi penerbangan sekitar 3,5 jam. Lalu lanjutkan perjalanan dengan menaiki kapal selama sekitar 15 jam agar bisa menginjakkan kaki di tanah Banda Neira dan menikmati berbagai keindahannya.

Laut Biru dan Lumba-lumba

Hanya dengan duduk di pinggir pantai, kamu sebenarnya sudah bisa menikmati keindahan laut Banda Neira. “Lautnya biru, bening, dan tenang. Saat cuaca baik, permukaan laut rata laksana cermin,” kata Sjahrir. Dari pantai Banda Neira, kamu juga bisa melihat gunung api vulkanik aktif yang sekaligus sebuah pulau, yakni Pulau Gunung Api.

Jika ingin lebih, kamu bisa menaiki kapal kecil untuk berkeliling melihat keindahan laut sekitar Banda Neira. Apabila sedang beruntung, kamu bisa menyaksikan kumpulan lumba-lumba bermain di permukaan laut dan sesekali melompat keluar dari air.

Lava Flow

Setelah puas melihat lanskap Banda Neira, kamu bisa menikmati panorama bawah lautnya dengan cara snorkeling atau diving di Lava Flow, sebuah taman karang cantik yang tumbuh di atas area bekas aliran lava bawah laut akibat letusan Gunung Api tahun 1988. Di Lava Flow, kamu akan menyaksikan terumbu karang besar dan berwarna; serta berbagai jenis ikan seperti kakap batu besar, ikan Napoleon, dan hiu karang.

Island Hopping

Jika kamu punya semangat berpetualang, kamu bisa melakukan island hopping alias mengunjungi beberapa pulau dalam sekali perjalanan di sekitar Banda Neira. Kamu bisa mendaki gunung setinggi 656 meter di Pulau Gunung Api Banda; menyelam di perairan Pulau Hatta dan Pulau Karaka; menikmati pemandangan indah di Pulau Rhun, Pulau Nailakka, Pulai Ay, dan Pulau Sjahrir; serta mengikuti tur rempah-rempah untuk mengetahui sejarah Kepulauan Rempah dengan menyambangi perkebunan pala di Pulau Banda Besar.

Benteng Belgica

Tempat bersejarah di Banda Neira yang rasanya wajib kamu kunjungi adalah Benteng Belgica. Banteng berbentuk segi lima di atas Bukit Tabaleku ini merupakan peninggalan penjajah Belanda. Benteng ini awalnya dibangun Portugis pada abad ke-16, lalu dibangun kembali oleh Belanda pada tahun 1611 sebagai benteng pertahanan menghadapi perlawanan masyarakat Banda yang menentang monopoli VOC atas perdagangan pala.

Dari benteng yang terletak pada ketinggian 30 meter di atas permukaan laut ini, kamu bisa menyaksikan indahnya Pulau Banda Besar, Pulau Gunung Api, dan birunya perairan Banda Neira. Benteng ini merupakan spot terbaik untuk berfoto dengan latar Pulau Gunung Api. Bahkan, potret Benteng Belgica dengan latar Gunung Api dijadikan gambar belakang uang kertas pecahan Rp 1.000 tahun emisi 2016 dan 2022.

Benteng Nassau

Tak jauh dari Benteng Belgica, ada Benteng Nassau yang merupakan benteng pertama di Banda Neira. Benteng berbentuk segi empat ini dibangun oleh Belanda tahun 1607 di atas fondasi benteng yang dibuat oleh Portugis. Di bagian luar Benteng Nassau ini pada 1621, Belanda membantai 44 Orangkaya Banda (pemuka masyarakat) demi bisa memonopoli perdagangan buah pala.

Benteng Nassau – foto oleh David Stanley, digunakan berdasarkan lisensi CC BY 2

Istana Mini dan Rumah Budaya

Setelah menyambangi benteng-benteng, kamu bisa mampir ke Istana Mini Neira yang dulu digunakan sebagai kantor pemerintahan VOC. Kamu juga bisa berkunjung ke Rumah Budaya Banda Neira, semacam museum benda antik yang menjadi saksi bisu kejayaan Banda sebagai penghasil pala, kedatangan berbagai bangsa asing untuk membeli buah pala, dan penjajahan Belanda.

Istana Mini (kiri) dan Rumah Budaya Naira (kanan) – foto oleh kemendikbud.go.id