Liputan foto atau hunting foto di rumah ibadah saat hari besar keagamaan sangat potensial menghasilkan foto-foto menarik dan unik. Namun, memotret saat momen sakral berlangsung tentu tidak boleh dilakukan secara serampangan.
Menurut jurnalis foto JawaPos.com, Dery Ridwansah, memotret di rumah ibadah saat hari besar keagamaan butuh dua hal, yakni persiapan dan etika. Baginya, persiapan dan etika bukan hanya prasyarat penting untuk mendapatkan foto yang bagus, tapi juga kunci untuk memastikan kehadirannya tidak mengganggu prosesi ibadah.
Dery selalu menerapkan dua hal tersebut setiap meliput di rumah ibadah saat hari besar keagamaan dalam belasan tahun kariernya sebagai jurnalis foto. Terbaru, Dery menerapkan dua hal tersebut saat memotret jemaat Konghucu melaksanakan sembahyang malam pergantian tahun baru Imlek di Vihara Boen Tek Bio, vihara tertua di wilayah Tangerang, Banten pada 28 Januari 2025 malam.
Berbekal kamera Canon EOS R5 Mark II dan lensa Canon RF 24-105 f/4 L IS USM dan RF 70-200mm f/2.8 L IS USM Z, Dery berhasil mendapatkan sejumlah foto menawan di Vihara Boen Tek Bio tanpa mengganggu kekhusyukan ibadah jemaat, karena dia melakukan persiapan dengan benar dan peka situasi.

Untuk tujuan edukasi, Dery dengan senang hati membagikan persiapan yang perlu dilakukan dan bentuk kepekaan yang perlu diasah untuk memotret di rumah ibadah, lewat 7 tips berikut:
1. Pelajari informasi dasar terkait ibadah atau upacara agama yang hendak diliput
Dalam konteks sembahyang malam pergantian tahun baru Imlek, tentu seorang fotografer harus mengetahui apa saja ritual yang dilakukan, berapa lama ibadah berlangsung, ornamen yang biasanya ada, dan kegiatan lain yang biasanya menyertai pelaksanaan ibadah tersebut. Dengan begitu, fotografer tidak hanya akan memahami situasi, tapi juga bisa memperkirakan atau mengimajinasikan momen-momen yang akan dipotret nantinya.
2. Persiapkan atau bawa minimal dua jenis lensa, yakni tele dan wide
Lensa wide atau lebar berguna untuk memotret lanskap rumah ibadah dan suasana keseluruhan pelaksanaan ibadah. Sedangkan lensa tele diperlukan untuk mendapatkan foto candid jemaat yang sedang beribadah. Lensa telefoto juga berguna agar fotografer tidak terlalu dekat ke jemaat, sehingga tidak mengganggu kekhusyukan ibadah mereka.

3. Jika memungkinkan, gunakan kamera yang memiliki fitur silent shutter
Dengan fitur tersebut, suara rana kamera tidak akan mengganggu jemaat yang sedang beribadah. Apalagi jika memotret menggunakan mode pengambilan gambar burst atau beruntun, fitur silent shutter sangat diperlukan. Fitur ini tersedia di kamera-kamera Canon sistem EOS R.
4. Kenakan pakaian yang rapi
Setidaknya gunakan celana panjang dan baju kemeja. Sebab, fotografer harus menghormati rumah ibadah dan setiap aktivitas ibadah di dalamnya.
5. Yang paling utama, fotografer harus “tahu etika”
Jangan memotret jemaat yang sedang beribadah dari arah depannya atau kerap disebut sebagai posisi menggunting. Pasalnya, memfoto dari depan tentu akan mengganggu jemaat yang sedang beribadah. Hal ini merupakan standar etika yang harus dipatuhi ketika memotret ibadah jemaat agama apa pun.

6. Jangan gunakan lampu flash
Alasannya jelas karena penggunaan lampu dalam bentuk apa pun akan mengganggu jemaat yang sedang beribadah. Sebaiknya fotografer mengoptimalkan saja pencahayaan yang ada dan dikombinasikan dengan ‘permainan’ aperture, speed, dan ISO kamera.
7. Persiapkan diri untuk mendapatkan foto terbaik dengan memotret momen-momen kunci
Dalam konteks sembahyang malam pergantian tahun baru Imlek, momen yang wajib diabadikan adalah ketika jemaat memegang lidi dan ibadah di depan patung. Selain saat jemaat ibadah, ada juga momen penting yang harus dipotret seputar malam imlek di vihara, yakni momen ketika anak-anak memasukkan angpau ke mulut barongsai. Momen lain yang tak boleh dilewatkan adalah ketika pelepasan burung pipit dan bagi-bagi angpau.



