Berkontribusi Kurangi Pemanasan Global Mulai 2025

Tak bisa dipungkiri, cuaca terasa semakin panas. Salah satu penyebabnya adalah pemanasan global yang terus terjadi selama sekitar 100 tahun terakhir hingga kini. Jika tidak ada upaya kolektif yang serius dari negara dan warga negara untuk menahan kenaikan suhu, maka kehidupan manusia di bumi akan semakin terancam. Karena itu, semua harus ikut serta berkontribusi menyelamatkan satu-satunya planet tempat tinggal umat manusia ini.

Berdasarkan Paris Agreement 2015, para pemimpin dunia sebenarnya sudah berjanji untuk membatasi kenaikan suhu global jangka panjang sebesar 1,5 derajat Celsius di atas rata-rata suhu sebelum Revolusi Industri pada akhir abad ke-19 atau masa sebelum manusia mulai menggunakan bahan bakar fosil secara masif. Pasalnya, kenaikan suhu bumi di atas 1,5 derajat, misalnya 2 derajat, akan memperparah risiko perubahan iklim seperti cuaca panas, kekeringan, kebakaran hutan, gelombang panas ekstrem, kenaikan permukaan laut, banjir, penurunan kesehatan manusia, hingga kepunahan satwa liar.

Sayangnya, janji para pemimpin dunia itu gagal ditepati. Menurut data Layanan Perubahan Iklim Copernicus Uni Eropa sebagaimana diwartakan Kompas, rata-rata suhu global dalam kurun Mei 2023-April 2024 sudah di angka 1,61 derajat Celsius di atas rata-rata suhu pra-Revolusi Industri.

Kendati ambang batas 1,5 derajat Celsius sudah terlampaui, kehidupan manusia di bumi masih bisa diselamatkan. Sebab, kenaikan suhu rata-rata global 1,61 derajat Celsius itu belum bersifat permanen. Selain itu, umat manusia juga masih bisa berbuat banyak untuk menahan kenaikan suhu, karena penyebab pemanasan global terbesar adalah aktivitas manusia sendiri. “Kita sesungguhnya bisa mengontrol seberapa besar pemanasan yang dialami dunia sesuai dengan pilihan-pilihan kita sebagai masyarakat …. Kehancuran bukanlah sesuatu yang tak terhindarkan,” kata ilmuwan iklim dari Barkeley Earth, Zeke Hausfather sebagaimana dilaporkan BBC Indonesia.

Menurut para ilmuan, bumi akan berhenti memanas apabila Net Zero Emission (NZE) tercapai. NZE adalah kondisi ketika emisi gas rumah kaca (di antaranya gas karbon dioksida dan metana) yang dilepaskan ke atmosfer seimbang dengan jumlah emisi yang mampu diserap oleh bumi. Proses mencapai NZE melibatkan dua strategi. Pertama, mengurangi emisi yang dihasilkan manusia dengan berbagai cara seperti mengurangi penggunaan bahan bakar fosil untuk transportasi dan pembangkit listrik. Kedua, meningkatkan kemampuan alam menyerap emisi dengan cara seperti reforestasi hutan dan gambut.

Pemerintah Indonesia menargetkan NZE di Tanah Air tercapai pada tahun 2060. Untuk mencapainya, pemerintah berkomitmen mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 31,89 hingga 43,2 persen sampai tahun 2030. Karena itu, pemerintah membuat berbagai kebijakan untuk mengurangi emisi dalam negeri, seperti pencegahan kebakaran hutan, pemberian insentif pajak kendaraan listrik, pengenaan pajak karbon terhadap pelaku industri, dan rencana pengurangan jumlah PLTU batu bara. Utusan Khusus Presiden RI, Hashim Djojohadikusumo di Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa/Conference of the Parties (COP) ke-29 di Azerbaijan pada November 2024 menyampaikan bahwa pemerintah akan menambah 75 persen pembangkit listrik yang proses produksinya menggunakan energi terbarukan.

Selain pemerintah, masyarakat sebenarnya juga diharapkan berkontribusi mengurangi emisi gas rumah kaca, terutama karbon dioksida (CO2), demi menyelamatkan bumi dari ancaman krisis pemanasan global. Dirangkum dari berbagai sumber, berikut 5 tindakan atau perubahan pola hidup yang bisa Anda lakukan untuk mengurangi emisi:

Efisiensi Penggunaan Listrik

Proses produksi energi listrik merupakan salah satu penyumbang emisi CO2 terbesar di Indonesia. Sebab, sebagian besar energi listrik Indonesia masih diproduksi menggunakan bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak bumi dan gas alam.

Karena itu, Anda harus menggunakan energi listrik seefisien mungkin. Di rumah, misalnya, matikan lampu atau perangkat elektronik yang sedang tidak digunakan, dan pakailah perangkat hemat energi. Anda juga bisa hemat energi listrik dengan cara mengoptimalkan pemanfaatan cahaya matahari sebagai sumber cahaya pengganti lampu dan sebagai sumber panas alami untuk mengeringkan pakaian.

Beralih ke Energi Terbarukan

Upaya mengurangi emisi karbon sektor kelistrikan akan semakin berdampak jika Anda mulai meninggalkan energi listrik yang bersumber dari bahan bakar fosil. Anda bisa beralih ke energi listrik yang proses produksinya tidak menyemburkan emisi karbon, seperti listrik yang diproduksi menggunakan energi matahari lewat teknologi panel surya. Jika kondisi hunian dan finansial memungkinkan, Anda bisa memasang panel surya di rumah untuk menggantikan pasokan listrik dari PLN.

Dengan menggunakan listrik yang dihasilkan panel surya, Anda berarti mengurangi kebutuhan listrik dari pembangkit listrik tenaga fosil. Semakin banyak rumah menggunakan panel surya, tentu akan semakin sedikit bahan bakar fosil yang perlu dibakar, sehingga emisi karbon dapat berkurang signifikan. Selain berkontribusi mengurangi pemanasan global, penggunaan panel surya sebenarnya juga dapat menghemat pengeluaran rumah tangga dalam jangka panjang karena energi matahari bisa didapatkan secara cuma-cuma dan tiada habisnya, apalagi Indonesia berlokasi di wilayah tropis.

Kurangi Penggunaan Kendaraan Bermotor

Kendaraan bermotor berbahan bakar minyak juga merupakan penyumbang emisi karbon dalam jumlah besar di Indonesia. Untuk menekan jumlah emisi CO2 dari sektor transportasi ini, Anda bisa mengurangi penggunaan mobil atau sepeda motor pribadi. Jika situasi dan kondisi memungkinkan, gunakanlah transportasi publik. Anda bisa juga bersepeda dan jalan kaki jika tempat tujuan tidak terlalu jauh.

Gunakan Kendaraan Listrik

Jika tetap butuh kendaraan pribadi untuk perjalanan jauh, gunakanlah kendaraan berbahan bakar listrik. Menurut PLN, emisi CO2 dari kendaraan listrik lebih rendah 56 persen dibandingkan kendaraan yang menggunakan bahan bakar minyak (BBM). Sebagai catatan, kendaraan listrik masih menghasilkan emisi CO2 karena listrik yang digunakan dominan diproduksi menggunakan bahan bakar fosil.

Tahun 2025 merupakan waktu yang tepat untuk beralih ke kendaraan listrik. Sebab, keberadaan stasiun pengisian listrik diperkirakan akan semakin tersebar luas pada 2025, terutama di kawasan perkotaan. Selain itu, harga kendaraan listrik diperkirakan akan semakin terjangkau berkat produksi skala massal, penurunan harga komoditi bahan baku baterai kendaraan listrik, serta hadirnya berbagai insentif dari pemerintah.

Kurangi Plastik Sekali Pakai

Sampah plastik berkontribusi terhadap pemanasan global, setidaknya dalam dua tahapan. Pertama, ketika plastik diproduksi di pabrik akan muncul emisi CO2 dan metana karena prosesnya menggunakan bahan bakar dalam jumlah besar. Kedua, ketika plastik sudah selesai digunakan, karena sampah plastik biasanya dimusnahkan dengan cara dibakar, sebuah metode pemusnahan yang pasti menyemburkan emisi CO2 ke atmosfer.

Oleh sebab itu, setiap individu harus mulai mengurangi penggunaan produk plastik sekali pakai. Ini hal sederhana yang bisa Anda lakukan sekarang juga. Misalnya, kurangi konsumsi air minum dalam botol kemasan sekali pakai dan sedotan plastik, lalu beralihlah menggunakan botol dan sedotan yang reuseable.

Batasi Penggunaan Pendingin Udara

Anda juga bisa berkontribusi menahan pemanasan global dengan cara membatasi penggunaan mesin pendingin ruangan di rumah. Pasalnya, mesin pendingin udara atau AC menggunakan gas rumah kaca bernama Chlorofluorocarbon (CFC) atau yang kerap kita sebut sebagai Freon untuk mendinginkan udara. Masalahnya, gas CFC yang dilepaskan AC ke udara dapat merusak lapisan ozon. Padahal, lapisan ozon berfungsi menyerap radiasi matahari. Jika lapisan ozon terus menipis akibat gas CFC, maka akan semakin banyak radiasi matahari yang jatuh ke bumi, sehingga bumi akan menjadi semakin panas.

Tentu, bukan hal mudah untuk menerapkan secara sekaligus lima tindakan tersebut. Akan tetapi, setidaknya bisa dimulai dengan tindakan sederhana, seperti mengurangi sampah plastik dan menghemat penggunaan listrik. Tindakan kecil bisa berdampak besar apabila dilakukan banyak orang. Setiap kontribusi individu akan sangat berarti.