Ada patung dewa di dasar laut Indonesia. Jika tidak percaya, cobalah menyelam di Teluk Pemuteran, Bali. Di dasar laut dengan air yang jernih itu, Anda akan melihat dengan jelas puluhan patung dewa yang terbalut koral warna-warni dan dikelilingi ikan-ikan kecil. Anda juga akan melihat konstruksi pura Hindu Bali. Suasananya hening berbalut kesan spiritual.
Pemandangan menakjubkan Taman Pura Bawah Laut Pemuteran itu akan memberikan sensasi menenangkan yang unik. Apalagi, Pantai Pemuteran tak berombak dan kawasan tersebut tidak terlalu ramai wisatawan jika dibandingkan pantai-pantai lain di kawasan selatan Bali.
Teluk Pemuteran berlokasi di barat laut Bali, persisnya di Desa Pemuteran, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng. Teluk yang mendunia berkat keindahan alam bawah lautnya itu berjarak sekitar 140 kilometer atau 3,5 jam perjalanan darat dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Kuta.

Jarak yang terbilang jauh dari bandara itu yang barangkali membuat jumlah wisatawan ke Pantai Pemuteran tak semasif pantai-pantai kawasan selatan Bali. Padahal, lelah perjalanan darat selama berjam-jam bisa terobati oleh keunikan, keelokan, dan kedamaian yang disuguhkan Taman Pura Bawah Laut Pemuteran yang hanya berjarak beberapa meter dari Pantai Pemuteran.
Dengan diving atau snorkeling sedalam 5 – 30 meter, wisatawan bisa melihat 33 patung dewa Hindu Bali di taman laut tersebut. Di antaranya adalah Patung Dewa Wisnu dan Dewa Brahma. Selain patung, ada juga struktur pura dan tiang-tiang yang menggambarkan arsitektur pura Hindu Bali, sehingga memberikan kesan bahwa taman bawah laut ini adalah sebuah pura kuno yang tenggelam.

Patung-patung dan pura yang terbalut terumbu karang itu mulai ditenggelamkan pada tahun 2000-an oleh pemilik hotel sekitar, nelayan, perusahaan selam, ilmuwan, serta penggiat konservasi lingkungan. Proyek kolaborasi ini digarap untuk merestorasi terumbu karang yang rusak dan untuk menghidupkan wisata bahari Pemuteran.
Supaya terumbu karang bisa tumbuh dengan cepat di taman laut itu, masyarakat dengan dibantu dua ilmuwan dari Jerman dan Jamaika menerapkan metode Biorock, yakni menempatkan struktur besi di bawah laut dan mengalirinya dengan arus listrik lemah kurang dari 1,2 volt. Metode yang tak membahayakan penyelam ini bisa mempercepat pertumbuhan terumbu karang 2 – 6 kali lipat. Ketika terumbu karang sudah cukup besar, aliran listrik itu dihentikan.

Semua upaya itu terbukti berhasil memulihkan terumbu karang di Teluk Pemuteran. Oleh karena itu, penggagas proyek tersebut, pengusaha pariwisata I Gusti Agung Prana dan timnya yang tergabung dalam Yayasan Karang Lestari mendapatkan penghargaan internasional The Equator Prize dari Badan Program Pembangunan Dunia (UNDP). Penghargaan bergengsi itu diserahkan saat Konferensi PBB tentang Pembangunan Berkelanjutan di Rio de Janeiro, Brazil, Juni 2012.






Sumber foto: www.wonderfulimages.kemenparekraf.go.id. Digunakan untuk tujuan edukasi dan informasi.